Senin, 28 Juni 2010

Masak Hari Ini

Roti goreng isi sosis. Menu sarapan hari ini. Sayangnya saya lupa foto. 

Ayam suwir dan pecel. Plus kerupuk. Menu makan siang dan makan malam hari ini.


Saya senang dan bangga. Hihihi.. karena tidak biasanya saya masak makanan yang berbeda untuk menu sarapan dan makan siang. Dan makan siangnya bukan tumisan lagi seperti yang sudah-sudah. Masakan saya hari ini naik kelas. Karena bumbunya cukup lengkap, bukan cuma bawang merah dan bawang putih. 
Dengan bumbu yang cukup lengkap, masakan saya jadi enak di lidah dan juga enak di mata. Soalnya sering juga karena bumbu yang tidak lengkap, masakan saya cuma enak di lidah tapi tampilannya gak karu-karuan. *sigh* 

Alasan masakan saya bisa berbumbu lengkap hari ini adalah, saya baru belanja di supermarket dan tukang sayur komplit di depan rumah Mama saya ketika saya berkunjung weekend kemarin. Jadilah saya punya cabe giling, kunyit, jahe, saus tiram, bumbu pecel, cabe merah, cabe hijau, cabe rawit, ayaamm, sosis, tepung roti, daaaann lain-lain tentunya.
Yeaaayyyy... saking senangnya foto masakannya saya upload di facebook daaann.. saya post di blog. :-)

Thanks to none document to be translated today so I have free time to cook. :-)

Selasa, 22 Juni 2010

Home


Hari ini terinspirasi nulis karena status teman saya di salah satu situs jejaring sosial. Dia sedang menanti detik-detik pernikahannya. She said, 'Harus seneng atau sedih ya?'. Dan setelah beberapa komen-komen dari teman-temannya terjawab, ternyata terkuak kalau dia sedih harus ninggalin orang tua. Perasaan saya langsung jadi melankolis. 

Ada perubahan besar yang terjadi ketika saya menikah. Yang mungkin juga dialami oleh semua pasangan menikah di belahan bumi ini. Saya meninggalkan orang tua saya. Dalam kasus saya, saya langsung pisah dengan orang tua saya. Tidak ada namanya Pondok Mertua Indah. Karena suami saya dan mertua sudah menyiapkan rumah mini untuk kami tinggali. Yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari rumah mama saya. Dan juga rumah mertua saya. 

Sejujurnya, buat saya itu sangat berat. Saya biasa hidup dengan orang tua saya sejak kecil. Apalagi setelah ayah saya meninggal, I am practically lived for my family. Secara otomatis juga, saya dan mama menjadi sangat dekat. Kita memikirkan semuanya berdua. Memikirkan keluarga kami, kehidupan kami dan semuanya. It was not easy. Totally not easy. I even couldn't imagine this before. As my entire life before I truly experienced it. Saya punya dua orang adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah. Saya merasa kami menjadi lebih terikat setelah ayah saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Memiliki. 

Dan ketika saya akan menikah.. yang tentu saja saya impikan seiring dengan pertumbuhan kedewasaan saya, saya dilema. Saya senang dan saya sedih. 

Saya tentu saja senang karena saya akhirnya menemukan laki-laki tempat berbagi untuk seumur hidup saya. Saya akhirnya menemukan laki-laki yang saya cintai dan mencintai saya sebegitu cukup sampai dia mau menghabiskan sisa hidupnya dengan saya. Saya senang karena saya bisa menjalankan sunnah Rasul untuk menikah.
Tapi saya juga sedih karena saya harus meninggalkan mama. Karena mama adalah single parent, buat saya lebih berat (mungkin) meninggalkannya. Saya tau saya adalah tempat berbagi untuk mama. Dan mama juga tempat berbagi untuk saya. Saya seringkali merasa, saya mendapatkan seorang lelaki untuk berbagi tetapi mama tidak lagi punya tempat berbagi. Oke, adik-adik saya sudah cukup besar untuk diajak berbagi. Tetapi tetap saja sedih rasanya. Walaupun begitu, beliau tidak pernah membahas itu secara melankonlis. Beliau menyatakan dia sedih, tetapi beliau tidak menganggap itu sebagai sesuatu penghalang buat saya untuk mengejar mimpi. Writing this reminding me that I do love her so much. She always looks strong. For me, she is my favorite woman in my life.       

Dan buat saya saat ini, my home is no longer my old home which I called most as 'Rumah Mama' recently, my home is my new home with my husband which I called most as 'Rumah' recently. 
Perubahan ini lucu buat saya. Lucu saja rasanya saya pulang ke Rumah Mama hanya untuk berkunjung, rumah yang saya tinggali selama 26 tahun. Saya tidak pernah kuliah atau sekolah atau kerja di luar kota sehingga praktis saya tinggal disitu seumur hidup saya. 

Well, this is life. Life must goes on. Saya sekarang tinggal di rumah baru saya mencoba meraih mimpi, merajut cita-cita dan membangun keluarga baru bersama suami saya. Kodrati. Alami. I have my new home as living process. Dan saya percaya walaupun mama berada jauh disana, we will always be connected in our heart. Kami akan baik-baik saja. 
Well, my new home... I am ready! :-)

Alhamdulillah


Alhamdulillah...
Allah menolong saya lagi hari ini.
Mencukupkan rezeki saya.
Just on time. 
Alhamdulillah...

Jakarta Ulang Tahun

Hari ini.
22 Juni 2010.
Jakarta ulang tahun katanya. Yang ke 483.

Saya tinggal di Jakarta sejak kecil. Sangat kecil. Mungkin 1 atau 2 tahun.
Oke, bukan di Jakarta-Jakarta amat. Bekasi. Tapiiii... jarak dari rumah saya ke Jakarta cumaa.. okayy.. 10 menit. Jadi saya lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Beraktifitas disana. 

Menurut saya, Jakarta itu kota yang tidak pernah tidur. Ramai. Hidup. Spiritnya hebat. 
Bayangkan saja, semua orang sudah mulai bermacet-macet dijalan dari jam 6 pagi. Dan bahkan masih bermacet-macet di jalan di pukul 11 malam. See? Can u feel the spirit? 

Kadang-kadang, saat saya lelah setelah bekerja, menaiki bis atau metro mini jam 9 malam dan saya melihat masih banyak orang yang juga baru mau pulang dari aktifitas mereka, saya menjadi semangat lagi. Saya merasa saya tidak sendirian dalam mengais puing-puing rezeki di kota besar ini. Saya merasa banyak yang senasib dan sepenanggungan dengan saya. We fight for our living together.
Dan saya sukaaaaaa sekali melihat pemandangan kota Jakarta di waktu malam. Beautiful. Seperti foto yang saya ambil dari hasil googling ini.


Saya sangat menikmati saat-saat saya pulang kantor dengan menggunakan bus kota. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kemacetan karena biasanya saya menggunakan waktu-waktu itu untuk merenungi hidup saya. Konyol memang, disaat orang lain memaki-maki, saya justru menikmati. 

Saya juga menikmati saat-saat menunggu kereta di Gambir ketika saya masih bekerja di sekitaran Gambir dan harus menggunakan kereta api untuk pergi dan pulang kantor. Saya suka memandangi Monas yang terlihat dari Stasiun Gambir. My favorite time is about 7-8 pm. Saat Gambir mulai sepi. Angin malam meniup lembut. Whooaaaa... Just perfect.
Gambar di atas juga hasil googling. Indah yaaa? Sekali lagi, disaat orang-orang memaki kereta datang terlambat. Saya justru bersyukur. Setidaknya saya bisa melihat pemandangan indah ketika menunggu.
Oke..oke.. saya mengaku. Saya mulai berlebihan. Saya juga punya kekesalan terhadap Jakarta. Kadang kala saya sumpek dan jenuh di tengah-tengah kota megapolitan ini. Kadang-kadang saya benci dengan asap knalpot yang hitam gak karuan. Saya benci macet saat saya sudah terdesak waktu. Dan saya benci tingkat kejahatan Jakarta. Copet. Maling. Preman. 
Bahkan saya punya pengalaman buruk juga tentang itu. Pemabuk yang mengamen. Saat saya harus pulang kantor jam 10 malam melalui terminal Blok M, dimana semua orang tumplek disitu, pengamen ini naik ke metro mini yang saya naiki. He sang and he sat beside me afterwards. Dia mendesak saya untuk berkenalan dan mencegah saya turun. Mulutnya bau alkohol dan matanya seperti menelanjangi saya. Hiii.. Kalauu saja yang mengajak berkenalan itu pria ganteng mungkin saya gak akan gemeteran seperti waktu itu. :-D  Tapi tetap saja ya, kita harus waspada sama orang seganteng Brad Pitt sekalipun. *sigh*

Tetapi, di luar pengalaman buruk saya, sekarang ini, saat saya tidak lagi tinggal di Jakarta. Oke Bekasi yang sangat mepet Jakarta. Saat saya tinggal di Bogor, yang notabene tidak jauh dari Jakarta, dan juga kota yang cukup padat, saya merindukan Jakarta. Saya rindu kemacetannya, saya rindu hiruk pikuknya, saya rindu spiritnya. Bahkan saya rindu asap knalpotnya. *sigh* Sepertinya saya berlebihan. Dan sepertinya dari tadi saya berlebihan. :-) Tetapi, yang paling utama adalah saya rindu tempat-tempat belanjanya. Baik tempat belanja murahnya dan mahalnya. Hahahaha.. akhirnya terbongkar apa yang saya kangeni. 
Memang sih saya sering ke Jakarta kala weekend. Tetapi tetap saja. 

Di Bogor, semuanya serba dekat. Semuanya serba itu-itu saja. Saya jadi cepat bosan. No offense for Bogor citizen. Bogor kota yang sangat indah. Udaranya sejuk, bersih. Airnya dingin. Perfect getaway place. Apalagi rumah saya yang agak masuk ke kota Bogor. Perfect. Tapi mungkin saya selalu hidup di tengah hiruk pikuk. Sehingga saya masih sulit beradaptasi.Wah.. saya jadi ngelantur kemana-mana..

Anyway by the way, for all the good and bad things about Jakarta, Happy Birthday Jakarta! Selamat Ulang Tahun Jakarta! semoga saya sempat berbelanja di Great Sale-mu. :-)

Senin, 21 Juni 2010

Hello Again. And My Wedding Day.

Haloooo....

I'm back.  :-)

Maaf kalo sebelumnya blog ini dihapus.. It is because I feel not comfortable to discuss about vendors. Names, brands, etc. It doesn't mean that I will not talk about names and brands at my future texts. Tapi kemarin memang ada masalah dengan salah satu oknum yang mengurusi vendor di pernikahan aku. 
Well, never mind. It's over.  I am just going to talk a little about my wedding.

Pernikahan aku cukup. Cukup melelahkan. Cukup menguras tenaga dan pikiran. Cukup membuat sentimetil. Cukup menumbuhkan permusuhan baru dan juga persahabatan baru. 
Tapi di atas semuanya, pernikahan aku indah. Indah karena semua beyond my expectation. Indah karena menurut aku itu semua rezeki dari Allah SWT. Pertolongan Allah SWT. Indah karena bisa menyatukan aku dan suamiku. Dengan satu tujuan. Ibadah.  Menjalankan sunnah. Dilandasi rasa sayang, rasa cinta, rasa percaya. It just.. beautiful.

I truly feel like I am very blessed. Aku hanya seorang anak yatim yang berjuang menjalani hidup. Untukku dan keluargaku. Well, it is not that bad. It is just a metaphor. :-) Tetapi, aku hanya tidak pernah membayangkan kalau aku akan menikah dengan jumlah undangan sebanyak seperti nikahanku kemarin. I just imagine a simple and modest wedding.Well, simple and modest wedding is also relative. Buat sebagian orang pernikahanku itu sederhana dan simpel tapi buat sebagian orang pernikahanku wah dan meriah. Buat aku, pernikahan aku kemarin hanya tidak terbayangkan.

Hey, I am thinking to make a short story about my wedding considering the drama at it. I mean drama - for real. :-)

Anyway, of all the drama happened, of all the crying and fear I experienced  at my wedding preparation or even at my wedding day, I still feel that i am blessed. 
Alhamdulillah aku dan keluarga bisa mengundang banyak famili, rekan dan teman ke pernikahan aku dan suamiku. I am blessed. Truly blessed. 
Semua karena bantuan Allah yang diturunkan melalui tangan orang-orang terdekat aku dan mama. Alhamdulillah... 

This one is reminding me to always be grateful for what I have. 
This one is reminding me that Allah will help us right at the moment we need it most.
Just right on time. It never late. Or it never be ahead. Just on time. Right there. Exactly when you need it most.
Just be grateful always.. 
Alhamdulillah...  

Note:
Special thanks to Padepokan Pencak Silat TMII, Sambega Katering, Roemah Manten Veni Rahman, Patriot Foto, Fine Souvenir, Wahyu Grafika and all the parties supporting me and my husband at our wedding day. Many big thanks.